geothermal

Sungguh sebuah ironi bagi Indonesia yang (faktanya) kaya akan cadangan energi, tetapi sebagian rakyatnya masih menderita krisis energi. Khususnya krisis listrik, tercermin pada 12.659 desa yang belum sepenuhnya menikmati listrik, bahkan 2.519 desa masih gelap gulita. Padahal, listrik termasuk kebutuhan primer dan kunci bagi Indonesia untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi riil sebanyak 7-9% per tahun. Pemikiran inilah yang mendorong Presiden Jokowi untuk meningkatkan rasio elektrifikasi dan meratakan persebaran listrik melalui program 35.000 MW.

Indonesia memiliki potensi panas bumi terbesar di dunia. Letak geografisnya yang dilewati jalur Cincin Api Pasifik merupakan bukti bahwa panas bumi berpotensi besar untuk dimaksimalkan. Sayangnya, sebagian besar pembangkit listrik di Indonesia masih berbasis energi konvensional yang tidak ramah lingkungan. Batu bara masih menjadi sumber utama (51,6%), diikuti gas (23,6%), minyak bumi (12,5%), air (7,9%), dan terakhir panas bumi (4,4%). Sejak tahun 1980-an sampai tahun 2015, pertumbuhan panas bumi cenderung stagnan. Selama 32 tahun eksplorasi, rata-rata pertumbuhan hanya sekitar 45 MW/tahun.

Hal tersebut membuat target kontribusi pembangkit listrik panas bumi sebesar 7.000 MW pada tahun 2025 terlihat mustahil. Tanpa sinergisasi, banyak hambatan yang dihadapi oleh ketiga stakeholder utama: industry-academia-government. Tapi jika ketiga stakeholder ini berkolaborasi (menyamakan tujuan dan frekuensi serta saling mendukung kepentingan bersama), lalu bergerak dengan spesialisasinya masing-masing, maka target tersebut bukanlah mustahil.

TINJAUAN INDUSTRI

Kapasitas panas bumi terpasang di Indonesia hanya sebesar 1341 MW, sekitar 4,56% dari total potensi 28.617 MW. Tantangan teknis muncul dalam memilih sistem pembangkit listrik yang tepat agar hasilnya optimal.

Terdapat tiga jenis sistem PLTP :

  1. Dry Steam

Memanfaatkan brine dominasi uap dengan entalpi tinggi (>235oC). Uap panas langsung diarahkan ke turbin untuk menghasilkan listrik.

       2. Flash Cycle

Memanfaatkan brine dominasi air dengan entalpi menengah ke atas (>182°C). Aliran panas dua fasa dipisahkan dalam separator dan uap panas dialirkan untuk memutar turbin.

      3. Binary Cycle

Menggunakan fluida kerja kedua, biasanya fluida organik dengan titik didih lebih rendah daripada uap air (n-pentana), yang beroperasi pada siklus tertutup Organic Rankine Cycle. Brine akan menguapkan fluida kerja yang menggerakan turbin. Sistem ini cocok untuk brine dengan entalpi rendah-menengah.

sistem-steam
Sistem Dry Steam, Flash Steam dan Binary Cycle

Banyak faktor dalam memilih sistem yang tepat, namun parameter yang utama adalah karakteristik brine. Brine mempunyai karakteristik berbeda-beda mulai dari kandungan garam terlarut, fraksi uap, fraksi cairan, komposisi noncondensable gas, dsb.

Sebagian besar brine di Indonesia merupakan dominasi air dengan temperatur tinggi (>225oC) dan beberapa dengan temperatur sedang (150‐225oC). Jadi, jelas bahwa sistem yang paling cocok adalah flash. Sebagian besar PLTP di Indonesia pun menggunakan sistem flash, baik single maupun double. Perbedaannya, pada double flash, diberikan perlakuan flash dua kali untuk memaksimalkan kandungan fraksi uap dalam brine.

skema-sistem
Skema sistem (a) single flash dan (b) double flash

Kenyataannya, sistem flash saja tidak sempurna. Proses flash menyebabkan konsentrasi mineral meningkat dan melepaskan NCG, sehingga harus dikeluarkan dari kondenser ke lingkungan. Sedangkan, binary cycle mempunyai kelebihan karena brine terjaga dalam tekanan tinggi sehingga tidak mendidih dan mencegah pelepasan NCG. Flash cycle merupakan sistem yang lebih sederhana dan murah dibanding binary, namun hanya fraksi uap dari brine yang dimanfaatkan.

Selain teknis, tantangan non-teknis yang dihadapi industri berupa penolakan masyarakat lokal yang memengaruhi kelancaran perizinan. Kasus nyata terjadi di Bali, Lampung Selatan, dan Nusa Tenggara Timur. Alasan penolakannya adalah kepercayaan spiritual masyarakat dan kekhawatiran akan perusakan lingkungan. Padahal, PLTP hanya membutuhkan lahan sekitar 404 m2/GWh (small footprint) dan air tawar sekitar 20 L/MWh, jauh lebih sedikit daripada lahan dan air tawar yang dibutuhkan pembangkit listrik lain.

TINJAUAN AKADEMISI

Dukungan dari kaum akademisi berperan penting. Tanpa ilmu pengetahuan dan penelitian, panas bumi tidak akan berkembang. Faktanya, jenjang pendidikan formal mengenai panas bumi di Indonesia masih sangat minim. Teknik panas bumi sebatas menjadi mata kuliah program sarjana FTTM ITB dan UPN “Veteran” Yogyakarta dan baru 2 institut yang menyediakan program magister jurusan Teknik Panas Bumi: ITB dan ITS. Lembaga penelitian yang mewadahi pengembangan panas bumi dengan sarana-prasarana memadai juga masih sedikit.

TINJAUAN PEMERINTAH

Terdapat 21% potensi panas bumi di kawasan konservasi. Tetapi, Pasal 38 UU Nomor 5 Tahun 1990 melarang eksplorasi di kawasan tersebut, yang berakibat pada sulitnya industri mendapat perizinan. Regulasi tumpang tindih antara pusat dan daerah, izin usaha yang rumit (dapat memakan waktu 5-8 tahun dengan investasi besar), dan beban pajak besar (34% dihitung dari net operating income, yang masih ditambah dengan 4 jenis penerimaan negara bukan pajak lainnya) merupakan beberapa kebijakan pemerintah lainnya yang memperlambat perkembangan panas bumi.

SOLUSI

sinergisasi-triple-helix
Diagram sinergisasi triple helix

PERAN INDUSTRI

Dalam mengatasi tantangan teknis, industri sebagai eksekutor lapangan dapat meraih pemanfaatan maksimal dengan combined cycle yang merupakan integrasi binary dan flash system. Binary cycle memanfaatkan sisa panas pada brine keluaran flash cycle dengan entalpi rendah. Melalui combined cycle, efisiensi dapat ditingkatkan hingga 50-60%.

Flash yang menjadi “topping cycle” dikombinasikan dengan binary yang menjadi “bottom cycle”. Sistem ini mempunyai serangkaian heat exchanger yang berfungsi sebagai kondensor untuk flash dan sebagai HE utama pada binary. Uap yang keluar dari turbin terkondensasi pada HE atas dan fluida kerja akan terevaporasi. Pada HE bawah akan terjadi pertukaran kalor antara brine hasil kondensasi dan fluida kerja, sehingga fluida kerja terpanaskan sebelum masuk ke HE atas. Selain meningkatkan keefektifan pembangkit listrik, sistem ini juga memungkinkan total reinjection bila ditemukan NCG. Combined cycle merupakan solusi efektif dan ekonomis yang akan diimplementasikan pada Well 3 PLTP Ulubelu Lampung pada Agustus 2016.

skema sistem combined cycle.jpg
Skema sistem combined cycle

Sedangkan untuk mengatasi tantangan non-teknis, industri dapat melakukan pendekatan kepada masyarakat, misalnya dengan menawarkan kompensasi, mengadakan dialog, serta memberikan sosialisasi mengenai dampak positif pengembangan panas bumi. Industri sebaiknya membuka lapangan pekerjaan serta tetap menghormati kepercayaan masyarakat setempat. Masyarakat berhak mendapat manfaat dari pengembangan panas bumi, sehingga diperlukan Corporate Social Responsibility. Wujud CSR dapat berupa pembangunan infrastruktur, fasilitas pendidikan dan kesehatan, pemberian modal usaha, akses listrik murah/gratis, dsb.

Industri juga berperan membantu usaha litbang dengan menyediakan sarana penelitian berupa lapangan sumur panas bumi yang dapat digunakan akademisi untuk mengimplementasikan hasil penelitian skala laboratoriumnya. Hal ini dapat menjadi keuntungan tersendiri bagi kedua pihak, sehubungan dengan hasil penelitian menjadi lebih akurat karena permodelannya valid dan terbukti di lapangan. Jika industri mampu menjalankan fungsinya dengan baik, ia dapat membantu pemerintah mewujudkan program 35.000 MW dan menjaga pasokan listrik.

PERAN AKADEMISI

Sebagaimana tertuang dalam Perpres No. 5 Tahun 2006, peran akademisi ditekankan pada kegiatan penelitian, pengembangan, dan penerapan IPTEK dengan melibatkan industri. Pusat Penelitian dan Teknologi (PusPiTek), Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Minyak dan Gas Bumi (LEMIGAS), Badan Penelitian dan Pengembangan ESDM, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), dan Geothermal Research Center UGM, merupakan beberapa lembaga yang dapat dimanfaatkan sebagai tempat penelitian panas bumi.

Sebagai usaha jangka panjang, harus ada wadah untuk mempersiapkan SDM panas bumi. Perguruan tinggi sebagai pilar utama pendidikan dan penelitian merupakan wadah tepat bagi generasi penerus. Upaya pendidikan dapat dimulai dari pengenalan sedini mungkin, kemudian membuka peminatan lalu membuka jurusan.

Jika akademisi mampu menjalankan fungsinya dengan baik, ia dapat bekerja sama dengan industri untuk memecahkan masalah teknis yang dijumpai di lapangan ataupun melakukan inovasi dan invensi teknologi. Akademisi juga berperan menjadi pengamat yang meninjau kebijakan pemerintah dan memberi masukan terkait, sehingga pemerintah tidak menelurkan kebijakan yang kurang sesuai dan malah merugikan industri. Contoh kasus : sebelum direvisi menjadi UU No. 21 Tahun 2014, panas bumi tergolong kegiatan pertambangan, padahal panas bumi termasuk kegiatan eksplorasi. Hal ini mempersempit ruang gerak industri untuk mendapatkan perizinan usaha yang berada di hutan lindung atau konservasi, karena pertambangan dilarang di kedua tempat tersebut.

PERAN PEMERINTAH

Di sisi hulu, untuk mempercepat proses perizinan, pemerintah dapat menerapkan pelayanan terpadu satu pintu yang menekankan pada koordinasi lintas kementerian. Untuk memastikannya berjalan lancar, Kementerian ESDM dan Kementerian Kehutanan harus rutin berkoordinasi. Koordinasi akan menghasilkan nota kesepahaman yang mengatasi masalah dilarangnya pembangunan PLTP di kawasan hutan konservasi. Pemerintah berperan menciptakan kebijakan agar potensi panas bumi dapat dimaksimalkan tanpa merusak lingkungan. Pemerintah juga berperan menciptakan iklim investasi yang baik untuk menarik investor lokal/asing dengan memberikan insentif, misalnya berupa pembebasan pajak. Cina dan Filipina sudah memberikan pembebasan pajak hingga delapan tahun, terhitung sejak lapangan mulai berproduksi, yang memicu pertumbuhan signifikan bagi industri panas buminya.

Selain itu, pemerintah juga berperan menjaga kepastian hukum, mempertahankan stabilitas politik dan keamanan, menyediakan beasiswa untuk meningkatkan kualitas SDM, membiayai karya ilmiah hasil penelitian akademisi, ataupun menjalin hubungan diplomatik dengan negara-negara yang perkembangan panas buminya lebih maju (Selandia Baru, Filipina, atau Amerika Serikat) untuk kerja sama tertentu, misalnya transfer teknologi.

Di sisi hilir, pemerintah berperan penting menetapkan harga jual listrik (feed-in-tariff) antara industri dan PLN (sebagai single buyer) secara adil dan menguntungkan keduanya. Dalam menetapkan FIT, pemerintah sebaiknya tidak membandingkannya dengan harga jual listrik batubara dan menilai dari energy value-nya saja, tetapi juga environmental value-nya. PLTP merupakan pembangkit listrik ramah lingkungan, hanya menghasilkan gas rumah kaca sebanyak 15 gram CO2-ekuivalen/kWh (perbandingan : PLTU batubara menghasilkan GRK sebanyak 755-1309 g CO2-ekuivalen/kWh). PLTP berperan besar mengurangi produksi GRK dan membantu Indonesia memenuhi perjanjian COP21.

Permasalahan pengembangan panas bumi muncul ketika kita tidak memiliki sistem yang tepat untuk mengelola sumber daya tersebut. Sinergisitas aspek-aspek penting merupakan kunci untuk mendukung perkembangan industri panas bumi di Indonesia. Terdapat tiga stakeholder utama yang memiliki ikatan dan pengaruh satu sama lain: industry-academia-government. Ketiga stakeholder tersebut harus bergerak secara berkesinambungan, mendukung satu sama lain sejak hulu sampai hilir dengan mengutamakan kepentingan rakyat di atas kepentingan golongan, sehingga tercapai tujuan utama, yaitu pengembangan panas bumi sampai 7000 MW pada 2025.

 

Advertisements

One thought on “Sinergisasi Triple Helix : Sebuah Jawaban Terhadap Tantangan Pengembangan Panas Bumi Indonesia

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s