energi-panas-bumi
Geothermal Power

Ada dua alasan yang menyebabkan Pemerintah Indonesia terus menggenjot produksi energi listrik dengan memanfaatkan panas bumi. Pertama, potensi geothermal Indonesia sangat besar. Diperkirakan, cadangan energi panas bumi dunia sebesar 40% ada di bawah tanah Indonesia. Sayangnya, potensi itu belum dikembangkan dengan baik atau hanya 5% saja.

Dengan energi panas bumi yang cukup besar itu, Indonesia baru menempati urutan ketika sebagai negara yang memanfaatkan geothermal untuk listrik setelah Amerika dan Filipina. Padahal, Indonesia menargetkan adanya daya listrik sebesar 7,6 GW pada tahun 2025. Pemenuhan target inilah yang menjadi alasan kedua.

Jika target itu mampu dipenuhi hingga waktu yang ditentukan, PLTP akan menyumbang cukup banyak daya ke seluruh negeri. Bahkan dari satu pembangkit seperti PLTP Sarulla saja, negeri ini akan mampu mencukupi kebutuhan listrik terpasang 10%. Jika proyek ini terus berjalan, bukan tidak mungkin pemanfaatan geothermal akan menggeser pembangkit dengan bahan bakar fosil atau energi terbarukan lainnya.

Sejarah Perkembangan Geothermal Indonesia

Geothermal Power

Sebelum proyek Sarulla atau Bedugul muncul dan dikembangkan oleh pemerintah, negeri telah memanfaatkan panas bumi sejak lama. Pada tahun 1918, pihak Kolonial Belanda sudah menjadikan Kawah Kamojang untuk sumber panas bumi. Bahkan pada tahun 1926 dan 1929 dilakukan pengeboran lagi sehingga didapatkan lima sumur yang menghasilkan uap kering. Sayangnya pemanfaatan ini terhenti setelah terjadi perang.

Setelah Indonesia merdeka, pengembangan geothermal mulai dilakukan lagi pada tahun 1972. Pemerintah Indonesia yang kala itu mendapatkan bantuan dari Selandia Baru dan juga Prancis mampu mendeteksi sekitar 217 titik yang berpotensi dijadikan sumber panas bumi. Titik itu menyebar mulai dari Sumatra, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, hingga Papua.

Setelah survei pertama, pemerintah kembali melakukan pengecekan wilayah berpotensi gothermal hingga jumlahnya meningkat menjadi 256 titik. Dari potensi ini, pemerintah mulai melakukan pengembangan hingga PLTP pertama di Indonesia bisa beroperasi dan menyokong kebutuhan listrik nasional meski jumlahnya tidak terlalu banyak.

Geothermal Indonesia Susah Berkembang Pesat

122448_itpanasbumidifilipina
Geothermal Indonesia

Dengan memiliki 40% cadangan geothermal dunia dan juga 256 titik potensi, Indonesia baru bisa memanfaatkan sekitar 5% saja. Padahal, target jangka panjang dalam rangka pemenuhan energi cukup besar. Lantas apa yang menyebabkan sektor ini seperti jalan di tempat atau bergerak perlahan?

Sebenarnya pemerintah telah berupaya untuk melakukan percepatan pembangunan PLTP di Indonesia, hanya saja beberapa gangguan kerap menghalangi. Pemanfaatan panas bumi di Indonesia harus tersandung beberapa hal seperti risiko pembiayaan dan investasi. Pembangkit ini membutuhkan biaya awal yang cukup besar atau sekitar 9%. Sebelum dibangun, PLTP harus mendapatkan investor yang besar terlebih dahulu.

Tidak adanya titik temu harga antara PLN dan pengembang menjadi masalah kedua yang menyebabkan proyek listrik bertenaga geothermal terus mandek. Selanjutnya terkait wilayah pemanfaatan, hampir sebagian besar titik potensi panas bumi berada di wilayah cagar alam. Pemanfaatan energi di sana tentu memiliki risiko besar pada rusaknya ekosistem.

Masalah terakhir yang membuat proyek ini kadang berhenti di tengah jalan adalah adanya protes warga. Di beberapa kawasan seperti Bedugul, proyek PLTP sempat terhenti karena warga melakukan protes. Pun pemerintah daerah juga tidak setuju karena khawatir zona konservasi alam, budaya, dan agama akan rusak.

Perkembangan Geothermal Indonesia Terbaru

energi-panas-bumi
Perkembangan Geothermal

Pada Maret 2017, PLTP Sarulla unit 1 yang ada di Sumatra Utara sudah beroperasi dengan baik. Pembangkit ini mampu melakukan konversi energi dari panas bumi dengan input 65 MW menjadi output sebesar 110 MW. Teknologi biner dan flash yang dikembangkan oleh Toshiba membuat proyek ini menjadi lebih efisien. Bahkan 100% uap yang dihasilkan bisa diolah kembali.

Unit baru PLTP Sarulla akan terus ditambah hingga tahun 2018 nanti. Dengan tiga unit yang beroperasi, PLTP ini akan menghasilkan setidaknya 330 MW daya listrik yang bisa digunakan untuk mencukupi kebutuhan listrik Indonesia khususnya di kawasan Sumatra dan pulau kecil di sekitarnya.

Hampir berbarengan dengan pengoperasian pembangkit listrik Unit 1 Serulla, World Wide Fund for Nature (WWF) Indonesia dan PT Arun LNG mengumumkan kerja sama. Keduanya akan membuat rencana pengembangan PLTP di kawasan Flores, Nusa Tenggara Timur.

Kerja sama ini akan mengembangkan potensi panas bumi di kawasan Ulumbu dan Mataloko yang terletak di Flores bagian barat. Dari survei yang dilakukan oleh WWF dan PT Arun LNG, ada potensi daya sekitar 50 MW di Ulumbu dan 22,5 MW di kawasan Mantaloko. Selain dua kawasan yang telah disebutkan pihak ini juga mengkaji kemungkinan pemanfaatan Atadei, Lembata, dan Alor yang memiliki kapasitas daya mencari 40 MW.

Masih pada bulan Maret 2017, Indonesia kembali melakukan kerja sama dengan Selandia Baru yang dikenal ahli dalam bidang panas bumi. Indonesia yang diwakili oleh Yunus Saefulhak dari Kementerian ESDM melakukan tanda tangan nota kesepahaman atau MoU dengan Mehaka Rountree yang bekerja pada Kementerian Perdagangan dan Luar Negeri Selandia baru.

Kerja sama ini berjalan untuk mendorong adanya percepatan pengembangan energi dari panas bumi. Selandia Baru akan memandu Indonesia untuk melakukan pengembangan daya hingga 4.835 MW. Dengan jumlah daya yang cukup besar ini, pemanfaatan geothermal di Indonesia bisa dimaksimalkan.

Pada bulan Februari 2017, Indonesia menambah kapasitas listrik terpasangnya sebanyak 215 MW. Penambahan ini dilakukan pada 4 pembangkit yang terdiri Sarulla unit 1 (Sumatra Utara), Sorik Marapi (Sumatra Utara), Karaha Bodas (Jawa Barat), dan Ulubelu (Lampung). Dengan penambahan ini, kapasitas listrik dari panas bumi meningkat menjadi 1.858 MW.

Medio Februari 2017, proyek pengembangan geothermal di Sokoria mulai dikembangkan. Proyek yang akan dijalankan oleh KS Orka ini akan mulai melakukan pengeboran. Diperkirakan, kawasan ini akan menyumbang sekitar 30 MW untuk pemenuhan energi listrik di Indonesia.

Sekitar Januari 2017, perusahaan Prancis yang bergerak dalam energi terbarukan khususnya geothermal mulai melakukan pengeboran. Hingga tahun 2019, kawasan ini akan menyedot sekitar 1.200 pekerja. Selama 30 bulan pengerjaan, diperkirakan akan ada peningkatan penghasilam warga sekitar terutama di bidang makanan dan akomodasi. Terakhir, pembangkit listrik tenaga panas bumi ini akan menghasilkan 80 MW atau setara dengan kebutuhan listrik 120.000 KK.

Mulai tahun 2017, perkembangan geothermal Indonesia akan terus meningkat. Kerja sama dengan Prancis dan Selandia baru serta investasi Pertamina sebesar 12 miliar dolar hingga 2025 akan menggenjot produksi listrik di Indonesia.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s