pura

Sebagai kawasan pariwisata utama di Indonesia, kebutuhan listrik di Bali cukup tinggi dibandingkan kawasan lain di Indonesia. Bahkan, meski pulaunya kecil, lebih dari 80% penduduknya sudah memanfaatkan listrik untuk banyak kebutuhan khususnya menunjang kegiatan ekonomi.

Besarnya pemanfaatan listrik di Bali berbanding lurus dengan kebutuhan listrik yang harus dipasok. Setidaknya dibutuhkan lebih dari 600 MW untuk mencukupi semua kebutuhan listrik di sana. Dari jumlah yang besar itu, Bali masih belum mampu memasoknya langsung sehingga membutuhkan saluran bawah laut dari pembangkit listrik di Jawa.

Berkaca dari keadaan ini, Pemerintah Indonesia berupaya untuk membangun cukup banyak pembangkit di Bali. Selain pembangkit listrik tenaga air dan tenaga surya, Pulau Dewata diharapkan mampu memanfaatkan potensi geothermal-nya yang diperkirakan mampu menyumbang energi sebesar 165-175 MW.

Kebutuhan Listrik Bali yang Besar

besakih-temple-bali

Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, kebutuhan listrik di Bali sangat tinggi. Bahkan tingkat elektrifikasinya mencapai 87% pada tahun 2010. Persentase besaran ini jauh di atas rata-rata elektrifikasi nasional. Selain masalah tingkat penggunaan listrik, pertumbuhan pengguna listrik di Bali juga tinggi. Setiap tahun ada kenaikan sekitar 10-11% sehingga dalam beberapa tahun ke depan Bali bisa mengalami krisis listrik.

Krisis listrik di Bali tentu menjadi masalah besar. Sektor pariwisata yang mencakup akomodasi, restoran, dan tempat hiburan lainnya akan terganggu operasi. Masalah ini akan menimbulkan efek domino sehingga penduduk lokal yang menggantungkan hidup pada sektor pariwisata Bali akan mengalami penurunan pendapatan.

Total pasokan listrik di Bali sekitar 600-700 MW. Dengan jumlah yang besar itu, hampir sepertiganya didapatkan dari kawasan Jawa. Sisanya berasal dari pembangkit listrik tenaga bahan bakar (gas dan minyak bumi) dan diesel yang sangat boros biaya. Selain itu, pembangkit ini juga tidak ramah lingkungan karena mengirimkan emisi karbon ke udara.

Dari beberapa permasalahan yang telah dikemukakan di atas, Bali memerlukan energi yang lebih banyak. Selain mendapatkan pasokan dari pulau lain, Bali juga harus memanfaatkan potensi sumber daya alam terbesarnya seperti panas bumi. Dari sini, proyek pembangunan PLTP Bedugul mulai dibangun meski mendapatkan beberapa kendala.

Potensi Geothermal di Bedugul Bali

gunung-agung-bali2
Potensi Geothermal Bali

Bali masih masuk dalam lingkar cincin gunung api pasifik yang dikenal sangat aktif. Keadaan ini menyebabkan potensi panas bumi yang terpancar di dalam tanah sangat besar dan harus dimanfaatkan dengan baik agar tidak terbuang percuma.

Bali memiliki cadangan energi dari panas bumi sekitar 226 MW dan tersebar di 5 titik yang berbeda. Dari lima titik yang sangat berpotensi itu, kawasan Gunung Bedugul menyimpan sekitar 165-175 MW. Dengan jumlah yang cukup besar itu, kebutuhan listrik di Bali bisa tercukupi tanpa harus mendapatkan pasokan dari  Pulau Jawa.

Potensi di Bedugul yang menyimpan cadangan energi besar berwujud sumber air panas yang cukup aman dan minim zat berbahaya. Suhu reservoir pada sumber ini sekitar 50-100 derajat C. Dengan suhu yang tidak terlalu tinggi ini teknologi binary bisa diterapkan untuk memaksimalkan pengolahan panas menjadi listrik.

Teknologi binary sudah diterapkan di PLTP Sarulla unit 1 pada Maret 2017. Dengan tambahan teknologi flash, pembangkit ini mampu menghasilkan energi yang lebih besar dari bahan pembangkitnya. Dengan menggunakan 65 MW saja bisa tercipta 110 MW. Jika teknologi ini diterapkan di Bedugul, sumber energi yang lebih  besar bisa saja dihasilkan untuk mencukupi semua kebutuhan listrik di Bali.

Pengembangan PLTP Bedugul Bali

bali_locator_topography
Pulau Bali

Potensi geothermal Indonesia yang ada di Bali sebenarnya sudah diketahui sejak lama. Bahkan PT Pertamina Gothermal Energy (PGE)dan Bali Energy Ltd telah melakukan kerja sama sejak tahun 1974. Berbagai riset telah telah dilakukan selama beberapa tahun meski operasionalnya tidak juga dilakukan hingga sekarang.

Proyek prestisius yang akan menyumbang energi cukup besar ke Bali ini menggunakan sekam KOB atau Kontrak Operasi bersama. Sejak kawasan Buleleng, Singaraja, dan Tabanan ditetapkan sebagai Wilayah Panas Bumi, eksplorasi bisa dilakukan dengan maksimal karena sudah sesuai dengan keputusan pemerintah.

Setelah melakukan penelitian dan kerja sama selama beberapa tahun, izin untuk melakukan eksplorasi telah dikeluarkan pada 1996. Satu tahun berselang izin untuk pengeboran juga dikeluarkan untuk enam titik yang berbeda. Dari enam titik yang telah ditentukan, baru tiga yang dieksploitasi untuk dimanfaatkan pancaran panas buminya.

Setelah sumur berhasil dibor proyek ini akhir terbengkalai. Warga sekitar melakukan protes sehingga proses pengembangan tidak bisa dilakukan dengan maksimal. Dari dari tahun 1997 hingga 2005 proyek PLTP ini jalan ditempat hingga akhirnya mangkrak dan tidak dijalankan sama sekali.

Perkembangan dan Masalah PLTP Bedugul

pura
Bali

Pengembangan PLTP Bedugul Bali terus mendapatkan masalah yang tidak ada habisnya. Padahal, jika bisa dikembangkan, sebanyak 165-175 MW listrik bisa disalurkan ke seluruh penjuru Bali sehingga warga tidak perlu takut jika terjadi krisis energi yang akan menyebabkan banyak sektor ekonomi mengalami kemunduran.

Dari tahun 1974 hingga sekarang, berikut beberapa masalah yang menyebabkan PLTP Bedugul tidak bisa beroperasi.

  1. Kawasan yang akan digunakan untuk PLTP berada di dalam Cagar Alam Watukaru. Eksplorasi dan eksploitasi di sini tentu memberikan potensi kerusakan alam dan juga menurunnya jumlah fauna yang ada di sana. Poin ini merupakan permasalahan utama pengembangan geothermal Indonesia.
  2. Pembangunan PLTP Bedugul dianggap memiliki potensi kerusakan yang cukup besar. Pertama adanya potensi penurunan air danau dan tanah akibat penebangan hutan. Dalam satu tahun, penurunan air bisa mencapai 3 meter.
  3. Konflik internal antara pihak mitra usaha PGE yaitu Bali Energy Ltd. Mitra usaha itu sedang mengalami konflik terkait kepemilikan saham. PGE sebenarnya ingin memanfaatkan 3 sumur yang telah dieksploitasi dengan kapasitas 10 MW.
  4. Konflik eksternal antara pengembang dengan Pemda dan warga sekitar. Penduduk yang ada di lokasi menolak pembangunan PLTP. Bagi mereka, kawasan Cagar Alam dan sekitarnya merupakan lokasi sakral. Mereka khawatir, eksplorasi dan eksploitasi bisa menghancurkan tempat penting itu. Selanjutnya, kawasan gunung juga dianggap simbol kemakmuran. Jika gunung rusak, mereka akan mendapatkan karma.

Terlepas dari segala permasalahan konflik dan permasalahan yang terjadi. Pemerintah berharap proyek PLTP Bedugul bisa kembali berjalan pada Maret 2017 dengan memanfaatkan 3 sumur yang telah dibor. Pihak pengembang dan juga pemerintah akan terus melakukan sosialisasi agar konflik dengan warga bisa mereda.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s